MENANTI DENGAN TAAT

  •  Bobby Widya Ardianto
  •  

MATIUS 1: 24, “Sesudah bangun dari tidurnya, Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya. Ia mengambil Maria sebagai isterinya,”

 

Yusuf, tunangan Maria, ayah Yesus Kristus. Hanya sedikit catatan Alkitab tentang pria muda ini. Ia hanya muncul secara spesifik di dalam Matius 1: 18-25. Kemudian muncul sesekali dalam Matius 2 (melarikan diri ke Mesir) dan Lukas 2 (kelahiran Yesus - Peristiwa di Bait Allah). Yusuf begitu misterius, tak banyak catatan sejarah mengenai dirinya. Tapi di dalam beberapa perikop Alkitab di atas, kita dapat melihat salah satu sifat kuat dalam diri Yusuf yaitu TAAT.

Ketaatan Yusuf kepada Allah tidak perlu diragukan lagi. Kita bisa belajar darinya tentang apa arti ketaatan dan apa hasil akhirnya. Dalam kisah-kisah yang tercatat dalam Alkitab, Yusuf menghadapi pilihan-pilihan yang sulit. Jika memilih untuk tidak taat, Yusuf sepertinya akan tetap menjalani hidupnya dengan tenang tanpa masalah yang berarti. Ia bisa saja tetap menceraikan Maria, berpindah kota, dan masalah selesai. Tapi pilihan itu tak diambil Yusuf. Ia memilih untuk taat, meskipun ada banyak risiko, kesalahpahaman, dan ancaman yang menanti di depan. Ia diminta untuk tidak takut mengambil Maria sebagai istri. Setelah kelahiran Yesus, Yusuf taat untuk mengungsi ke Mesir tanpa tahu kapan akan berakhir. Saat kembali ke tanah Israel, ia pun kembali taat untuk hidup di kota yang lain, Nazaret. Kehidupan Yusuf diwarnai dengan dinamika dan ketegangan, nyawa menjadi taruhannya.

Yusuf mampu taat bukan karena kehebatannya, tetapi semata-mata karena anugerah dari Allah. Bukti nyata itu terlihat dari perikop sebelumnya. Allah telah menetapkan sejak semula bahwa melalui nenek moyang Yusuf lah, Yesus Kristus akan lahir. Demikian pula kita, ketaatan yang kita jalani saat ini bukan karena kita hebat dan berpengalaman. Bukan pula karena kita memiliki banyak hal di dunia ini. Ketaatan yang sedang kita jalani adalah murni karena anugerah Allah saja.

Hari ini, kita mengakhiri masa adven dan akan merayakan kembali lahirnya Yesus Kristus, Tuhan kita, Sang Juruselamat. Di saat yang sama, kita sedang terus menantikan kedatangan-Nya kembali. Di masa inilah, kita belajar untuk terus taat sembari menantikan Dia. Kita taat untuk hidup seturut firman-Nya, taat untuk hidup seperti Yesus, taat untuk hidup menjadi terang bagi dunia yang gelap. Belajar dari Yusuf, saya percaya, bahwa ketaatan yang sedang kita perjuangkan dalam hidup ini selalu memberi hasil baik di akhirnya, walaupun hasil itu belum tentu kita rasakan dan nikmati. Mungkin saja yang akan merasakan dampak itu adalah keturunan kita, gereja, masyarakat, dan dunia sekian tahun kemudian setelah kita tiada.

Apapun jalan ceritanya, mari kita jalani dengan penuh sukacita karena dapat hidup taat di dalam Tuhan. Ketaatan akan selalu mendatangkan kebaikan bagi diri sendiri dan orang-orang di sekitar kita. Selamat merayakan Natal, selamat menanti kedatangan-Nya kembali dengan sukacita dan penuh harapan!

 

(Pnt. Bobby Widya Ardianto)

Kami menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman Anda.