MENJADI TERANG DI TENGAH TOXIC COMMUNITY
Bacaan: Yohanes 9 : 1 – 14, 30 – 41
Lingkungan mempunyai pengaruh yang sangat besar bagi seseorang. Baik buruknya seseorang, bisa dipengaruhi oleh lingkungan tempat dia berada. Jika lingkungannya baik, maka bisa baik pulalah orang itu dan sebaliknya, yang sekarang dikenal dengan istilah Toxic community atau lingkungan toxic (beracun), yaitu lingkungan yang dapat membawa seseorang ke dalam pengaruh buruk. Lingkungan di mana orang-orang sekitar kita tidak menunjukkan kepedulian satu dengan yang lain, suka memanipulasi atau memanfaatkan satu sama lain dengan cara yang tidak baik, sering meremehkan dan merendahkan orang lain dan lain sebagainya. Kondisi sekitar yang dikelilingi oleh hal-hal buruk dapat mempengaruhi dan menekan seseorang baik dalam dalam berpikir, berkata-kata dan bertindak. Dan terkadang kita tidak sadar kalau kita sedang berada di tengah-tengah toxic community tersebut.
Ada seseorang yang buta sejak lahirnya, disembuhkan oleh Tuhan Yesus pada hari Sabat. Yesus meludah ke tanah dan mengaduk ludahnya itu dengan tanah, lalu mengoleskannya pada mata orang buta itu kemudian orang buta itu disuruh pergi dan membasuh dirinya di dalam kolam Siloam dan sembuhlah ia sehingga dapat melihat kembali (Yoh 9 : 6-7). Menurut orang Yahudi, apa yang Tuhan Yesus lakukan pada orang buta sejak lahirnya itu telah melanggar peraturan hari Sabat, sehingga mereka menciptakan lingkungan yang toxic. Mereka menekan orang-orang disekitar mereka tak terkecuali orang tua dari orang buta yang telah sembuh itu, demi tujuan jahat mereka. Mereka juga mempengaruhi orang buta yang telah disembuhkan itu. Ia ditekan dan didesak oleh pemuka agama Yahudi agar menyalahkan Yesus. Mereka tidak dapat melihat kebaikan dan anugerah Tuhan, tetapi justru ingin mempersalahkan Yesus yang telah berbuat baik menyembuhkan seorang yang buta sejak lahirnya. Namun di sini kita melihat bahwa orang buta yang telah disembuhkan ini justru membela Yesus dan tidak terpengaruh oleh tekanan orang-orang disekitarnya. Ia bahkan berani menyatakan bahwa ia percaya bahwa Yesus adalah Mesias dan sujud menyembah Yesus di depan para pemuka agama Yahudi (ay 41).
Tentu semua orang tidak menginginkan berada di lingkungan yang toxic akan tetapi terkadang kita tidak menyadari bahwa kita sebenarnya sedang berada di tengah-tengah lingkungan yang toxic. Kita tidak mengerti bahaya lingkungan toxic sehingga tanpa sadar pula kita mulai terpengaruh dengan lingkungan toxic itu. Kita mulai menjadi orang yang suka memanfaatkan dan mengintimidasi orang lain demi mencapai tujuan kita; kita suka meremehkan dan tidak menghargai orang lain sehingga orang lain menjadi tertekan dan frustasi; kita lupa identitas kita sebagai anak-anak Tuhan. Hati kita seakan tumpul karena tenggelam dalam toxic community. Padahal, sebagai anak-anak Terang kita seharusnya menjauhi perbuatan jahat dan diharapkan bisa membongkar perbuatan kegelapan dengan kebenaran firman Tuhan (Ef 5 : 8-11).
Mari kita memohon hikmat dari Tuhan agar dapat peka dan mengenali lingkungan yang toxic dan mengerti bahaya lingkungan toxic sehingga tidak terpengaruh oleh tekanan yang ada. Jadikanlah Tuhan sebagai gembala yang menuntun perjalanan hidup kita. Dan seperti orang buta yang telah disembuhkan oleh Yesus yang berani untuk melawan tekanan para pemuka agama Yahudi untuk menyalahkan Yesus, kita pun harus berani untuk menolak orang yang mempengaruhi kita untuk berbuat dan berpikir yang buruk/jahat. Beranilah juga untuk membongkar kejahatan dengan menunjukkan hal-hal yang baik seperti yang Yesus lakukan agar nama Yesus semakin ditinggikan.