MUNAFIK VS INTEGRITAS
Matius 23:1-12
Menurut kamus bahasa Indonesia, kata munafik diartikan tiga definisi yaitu berpura-pura percaya atau setia kepada agama dan sebagainya, tetapi sebenarnya dalam hatinya tidak; suka mengatakan sesuatu yang tidak sesuai dengan perbuatannya; bermuka dua. Lawan dari munafik adalah integritas yang berarti mutu, sifat, atau keadaan yang menunjukkan kesatuan yang utuh sehingga memiliki potensi dan kemampuan yang memancarkan kewibawaan; kejujuran.
Yesus memuji sekaligus mengkritik ahli Taurat di depan para Murid. Yesus memuji ajaran ahli Farisi terhadap hukum-hukum Tuhan yang diajarkan sejak zaman Musa. Ajaran itu perlu didengarkan dan diikuti. Yesus mengkritik mereka yang tidak melakukan apa yang diajarkan. Itulah kemunafikan. Apa yang ditampilkan dalam diri ahli Taurat seperti tali sembahyang dengan jumbai yang panjang, duduk di tempat terhormat, disebut “rabi” semua itu hanyalah pencitraan.
Barangkali, kita perlu memeriksa kehidupan iman masing-masing. Apakah selama ini kita menjalani demi pencitraan yang menjebak kita ke dalam kemunafikan? Datang rajin ke gereja karena kerinduan karena Tuhan atau terpaksa karena tugas pelayanan? Kita sungguh melayani sebagai persembahan diri bagi Tuhan atau mencari pengakuan di mata orang? Kita perlu sungguh memeriksa diri agar tidak menjadi “ahli-ahli taurat” yang munafik. Tuhan menginginkan kita hidup dalam integritas yang utuh. Iman yang kita percayai terwujud tulus dalam kehidupan sehari-hari, tanpa pencitraan melainkan kejujuran.
(Pdt. Daniel K. Gunawan)